Lompat ke isi utama

Berita

Bawaslu Sulsel Luncurkan Buku Saku dan Peta Kerawanan untuk Instrumen Pengawasan Data Pemilih 2026

luncurkan buku saku

Anggota Bawaslu Sulsel, Saiful Jihad, mengajak semua pihak untuk memberi masukan agar alat pengawasan ini benar-benar mudah digunakan di lapangan, Rabu (17/12).

Makassar, Badan Pengawas Pemilihan Umum — Badan Pengawas Pemilu (Bawaslu) Sulawesi Selatan baru saja meluncurkan dua alat baru untuk memperkuat pengawasan Pemilu 2026: Buku Saku Pramuka (Saka Adhyasta Pemilu) dan Indeks Kerawanan Data Pemilih. Acara ini dikemas dalam kegiatan menarik bertajuk “Glow Up Bareng Bawaslu” di Makassar, Rabu (17/12/2025).

Apa Kegunaan Alat Baru Ini?
Kedua instrumen ini dibuat agar pengawasan pemilu tidak lagi hanya berdasarkan tebakan, melainkan data yang akurat:

Buku Saku: Menjadi panduan praktis bagi anggota pramuka dan pengawas di lapangan.

Indeks Kerawanan: Membantu Bawaslu memetakan wilayah mana saja yang datanya sering bermasalah, sehingga pencegahan bisa dilakukan lebih awal.

Pesan dari Pimpinan Bawaslu Sulsel
Anggota Bawaslu Sulsel, Saiful Jihad, mengajak semua pihak untuk memberi masukan agar alat pengawasan ini benar-benar mudah digunakan di lapangan.

“Kami berharap alat ini bisa membantu merapikan data pemilih secara terus-menerus. Jika ada ide untuk penyempurnaan, mari kita diskusikan agar siap menghadapi Pemilu 2026,” ujarnya.

Ia juga berharap inovasi dari Sulawesi Selatan ini bisa menjadi contoh dan diterapkan secara nasional oleh Bawaslu RI.

Senada dengan itu, Ketua Bawaslu Sulsel, Mardiana Rusli, menekankan pentingnya kriteria yang jelas dalam menentukan status kerawanan suatu daerah.

“Gagasan ini sangat menarik. Namun, kita perlu perjelas kriterianya, misalnya kenapa sebuah daerah disebut ‘zona merah’ (rawan). Harus ada data kuat di baliknya agar pengawasan kita lebih tepat sasaran,” jelas Mardiana.

Mengapa Ini Penting?
Langkah ini membuktikan bahwa Bawaslu Sulsel ingin menjaga kualitas demokrasi dengan cara yang ilmiah dan terukur. Dengan data pemilih yang akurat, potensi kecurangan atau kekeliruan dalam pemilu dapat diminimalisir, demi hasil demokrasi yang lebih jujur dan adil.

Sumber: www.bawaslu.go.id