Lewat Ruang Maccarita, Lolly Suhenti Tanamkan Pentingnya Kesadaran Diri Sendiri Awasi Pemilu
|
Bone, Badan Pengawas Pemilihan Umum – Lolly Suhenty, Anggota Bawaslu Republik Indonesia (RI), mengajak masyarakat untuk kembali memahami esensi dari pengawasan partisipatif bukan sekadar tugas lembaga, tapi gerakan kesadaran bersama. Hal tersebut disampaikan Lolly pada podcast Ruang Maccarita Bawaslu Bone volume kesembilan.
Anggota Bawaslu RI yang sering disapa Teh Lolly ini, menekankan bahwa isu pengawasan hanya akan hidup jika ada ruang untuk bercerita, tempat orang bisa saling mendengar dan saling memahami realitas yang dihadapi sehari-hari.
“Kalau kita sering bercerita, kita akan sadar bahwa banyak masalah di sekitar kita itu punya akar politik. Harga tempe, bawang, bahkan minyak goreng, tidak berdiri sendiri. Ada kebijakan yang memengaruhi semua itu” ujarnya.
Bagi Teh Lolly, kesadaran mengawasi lahir dari pengalaman panjang yang ditempuhnya sejak mahasiswa. Ia memulai perjuangan sosial dari advokasi petani bersama organisasi kemahasiswaan, hingga akhirnya terjun di dunia politik kebijakan melalui Koalisi Perempuan Indonesia dan menjadi tenaga ahli di DPD RI.
“Dari advokasi petani saya belajar, pemberdayaan masyarakat tidak akan cukup tanpa regulasi yang berpihak. Dari situlah saya sadar, perjuangan harus naik level sampai akhirnya saya memilih bergabung di Bawaslu” terangnya.
Namun, menjadi bagian dari Bawaslu tidak membuatnya berhenti belajar. Justru di lembaga pengawas Pemilu tertinggi itu ia menemukan satu pelajaran penting yaitu menjaga demokrasi tidak bisa dilakukan sendirian.
“Bawaslu itu kuat karena kolaborasi. Demokrasi tidak bisa dijaga sendirian, semua pihak harus bergerak bersama, pemerintah, masyarakat, bahkan swasta” tegasnya.
Menurutnya, inti dari pengawasan partisipatif bukan sekadar mengawasi orang lain, melainkan mengawasi diri sendiri dan lingkungan terdekat. “Yang pertama harus sadar adalah diri kita. Kita harus aware dulu, tahu apa yang harus diawasi, bagaimana caranya, dan apa yang harus dilakukan ketika ada pelanggaran” jelasnya.
Ia menyadari bahwa rendahnya partisipasi masyarakat sering kali karena masyarakat merasa tidak ada manfaat langsung dari ikut mengawasi. Namun ia menegaskan, dampak politik itu nyata dan memengaruhi kehidupan sehari-hari. “Kalau proses politiknya benar, maka hasilnya juga akan benar. Pemimpin yang baik lahir dari proses yang baik” ungkapnya.
Melalui cerita reflektifnya, Teh Lolly ingin mengingatkan bahwa kesadaran politik adalah proses panjang. “Membangun kesadaran itu seperti mengingatkan anak agar sikat gigi sebelum tidur, harus terus-menerus,” katanya. “Karena kesadaran tidak lahir dari satu kali nasihat, tapi dari kebiasaan yang ditumbuhkan” jelasnya.
Dalam sesi Maccarita, ia juga menyinggung pentingnya inisiatif dan inovasi kader pengawasan partisipatif agar tidak hanya berhenti pada pembentukan kelompok. “Bawaslu sudah melatih banyak kader Pendidikan Pengawasan Partisipatif, tapi yang penting bukan hanya terbentuk, melainkan berfungsi dan bergerak. Tanpa inisiatif, semua hanya akan berhenti di tataran nama” tegasnya.
Teh Lolly menutup dengan pesan sederhana namun kuat “berhenti merasa paling tahu, terus belajar, dan jangan cepat puas”. “Bawaslu Bone berkembang luar biasa. Tapi kalau hari ini sudah di angka sembilan, masih ada angka sepuluh bahkan seratus yang bisa dicapai” ujarnya.
Ia pun mengajak masyarakat Bone untuk datang langsung ke kantor Bawaslu Bone, menyaksikan sendiri kerja nyata lembaga itu. “Jangan hanya percaya dari media sosial. Datangi, buktikan. Karena menjaga demokrasi itu tanggung jawab kita semua. Cerita ini bukan hanya tentang pengawasan, tapi tentang perjalanan membangun kesadaran kolektif. Dari ruang bercerita yang sederhana, lahir semangat besar untuk menjaga demokrasi. Bone ini kampung kita, dan kampung ini harus kita awasi bersama” tutupnya.
Penulis dan Foto: Humas Bawaslu Bone