Maccarita#7 – Awaluddin : “Cintai Pekerjaanmu Walau Tak Membuat Kaya”
|
Bone, Badan Pengawas Pemilihan Umum - Tidak semua perjalanan hidup berjalan lurus. Begitu pula dengan kisah seorang Aparatur Sipil Negara (ASN) yang kini dipercaya sebagai Sekretaris Bawaslu Provinsi Sulawesi Selatan. Di balik kedisiplinannya, tersimpan cerita panjang tentang perjuangan, kegagalan, dan pilihan yang penuh makna. Kisah tersebut disampaikan oleh Awaluddin Mustafa, Kepala Sekretariat Bawaslu Provinsi Sulawesi Selatan dalam podcast Ruang Maccarita Bawaslu Bone volume ketujuh.
Lulusan perguruan tinggi tahun 1999 ini sempat merantau ke Jakarta. Harapan akan pekerjaan di ibu kota kala itu begitu besar. Namun kenyataan berkata lain. Ia sempat diterima di salah satu lembaga swasta dengan posisi personalia, tapi ternyata diarahkan menjadi marketing mencari nasabah. “Wah, di luar ekspektasi, akhirnya kami kabur” kenangnya Awaluddin sambil tersenyum.
Kegagalan di ibu kota tidak membuatnya patah arang. Ia memilih kembali ke kampung halaman. “Hujan emas di negeri orang tetap lebih nikmat hujan batu di kampung sendiri” ucapnya penuh keyakinan. Dari situlah jalan hidupnya berubah. Menjadi PNS yang kala itu memang bukan pekerjaan yang menjanjikan kekayaan. Namun baginya, justru di sanalah ada kepastian, keberkahan, dan pengabdian.
Perjalanan kariernya dimulai dari tingkat kelurahan, lalu kecamatan, hingga berbagai instansi pemerintahan seperti Bapenda, Samsat, hingga Kesbangpol. Baru kemudian takdir membawanya ke Bawaslu. “Saya orangnya memang suka tantangan. Dulu cita-cita jadi polisi tidak kesampaian. Tapi di Bawaslu ini, saya bisa jadi pengawas, bisa melakukan fungsi kontrol” tuturnya.
Bagi dirinya, tantangan terbesar justru ada di Bawaslu. Jika di Pemda semua serba satu komando, di Bawaslu ia dituntut untuk mampu berkolaborasi dengan berbagai pihak dan sering kali berhadapan dengan dunia politik uang kompleks. Namun, di situlah letak nilai lebihnya. Dari eselon tiga di Pemda, kini ia naik menjadi penentu arah kebijakan. Meski berada di jabatan tinggi, prinsip hidupnya sederhana: disiplin, rendah hati, dan terus belajar. Ia percaya ASN tidak cukup hanya pintar, tetapi harus tertib, inovatif, dan mau berkolaborasi. “Jangan bawa ego, bawa dirimu sebagai abdi negara” pesannya kepada para ASN baru.
Ia juga menitipkan satu kalimat yang menjadi pegangan hidupnya: “Cintai pekerjaanmu walaupun itu tidak membuatmu kaya. Karena yang sedikit dan sederhana, kalau dijalani dengan ikhlas, akan menjadi berkah”.
Pesan itu seolah merangkum seluruh perjalanan hidupnya. Dari perantauan di Jakarta yang penuh getir, hingga kini menjadi sosok kunci di balik roda sekretariat Bawaslu Provinsi Sulawesi Selatan. Baginya, bekerja bukan sekadar mencari nafkah, tetapi wujud pengabdian dengan penuh cinta dan keikhlasan.
Penulis dan Foto: Humas Bawaslu Bone