Lompat ke isi utama

Berita

Rohzali: “Desember, D nya Apa ? Demokrasi Sehat Untuk Indonesia Hebat”

Ijalkongkow2

Anggota Bawaslu Bone Rohzali saat berdiskusi dengan mahasiswa Uniasman Bone pada kegiatan diskusi interaktif Kongkow Kolaborasi Vol.2 yang diselenggarakan di Ruang Media Center Bawaslu Bone, Jumat malam (19/12/2025).

Bone, Badan Pengawas Pemilihan Umum – Kesadaran politik bukan sekadar hadir ke TPS setiap lima tahun. Lebih dari itu, kesadaran politik adalah kemampuan melihat arah bangsa, memahami dampak kebijakan, serta berani menjaga demokrasi dari praktik-praktik yang merusaknya. Pesan inilah yang mengemuka dalam dialog Kongkow Kolaborasi Volume 2 Bawaslu Bone yang disampaikan Rohzali Putra Badaruddin, Anggota Bawaslu Bone.

“Kesadaran politik adalah kemampuan kita melihat bahwa politik bukan hanya soal lima tahunan, bukan sekadar mencoblos di TPS, tetapi tentang arah bangsa dan kebijakan yang kita pilih” tegas Rohzali yang sering disapa Bro Ijal dalam diskusi bersama Mahasiswa Fakultas Hukum dan Politik Universitas Andi Sudirman (Uniasman) Bone.

Mahasiswa diajak merefleksikan kembali makna menggunakan hak pilih. Memilih karena visi dan gagasan, bukan karena kedekatan, rupa semata, apalagi karena iming-iming uang. Praktik politik uang disebut sebagai bentuk penormalan kesalahan yang berbahaya bagi demokrasi, karena merusak nilai hukum, agama, adat, dan etika publik sekaligus.

Lebih lanjut, forum ini menekankan pentingnya edukasi politik dan partisipasi aktif. Partisipasi tidak berhenti pada ikut memilih, tetapi dimulai dari tahu mana yang benar dan salah, berani bersikap, serta terlibat menjaga proses demokrasi. Mahasiswa diposisikan sebagai kelompok kritis yang memiliki energi, integritas, dan peran strategis dalam pengawasan partisipatif.

Bawaslu Bone juga membuka ruang seluas-luasnya bagi masyarakat, khususnya mahasiswa, untuk berperan aktif dalam pengawasan Pemilu. Ketika menemukan indikasi pelanggaran, baik politik uang, penyalahgunaan bantuan, maupun ketidaknetralan aparatur negara, masyarakat diimbau tidak berhadapan langsung, tetapi menyalurkannya melalui mekanisme resmi Bawaslu dan jajaran pengawas di semua tingkatan.

Diskusi berlangsung sangat interaktif. Para mahasiswa mengajukan berbagai pertanyaan – pertanyaan kritis terkait konsekuensi hukum maupun moral terkait dengan pemilih yang memilih golput, keresahan masyarakat menjelang Pemilu yang penuh dengan pertimbangan untuk memilih untuk menguntungkan diri sendiri, hingga langkah yang dilakukan untuk menghilangkan money politk di era sekarang.

Bro Ijal berpesan kepada para peserta. “Kalau ada ruang bagi kita untuk melakukan hal baik, lakukan. Jangan berdiam diri, jangan acuh tak acuh. Anak muda adalah pewaris bangsa ini, kalau anak muda sudah sadar akan politik, saya yakin 10 tahun akan datang demokrasi kita akan jauh menjadi lebih baik” pungkasnya.

Menutup diskusi, Bro Ijal mengajak peserta untuk berikrar. “Saya berikrar, jika ada 2 juta penduduk inonesia yang menolak politik uang, saya adalah salah satunya. Saya berikrar, jika ada 2 juta penduduk Kabupaten Bone yang menolak politik uang, saya adalah salah satunya. Saya berikrar, jika ada 1 orang yang menolak politik uang, izinkan saya adalah salah satunya” tegasnya.

Penulis dan Foto: Humas Bawaslu Bone