Lompat ke isi utama

Berita

Rohzali: Jadilah Generasi yang Peduli Demokrasi

rohzali gen demok

Anggota Bawaslu Kabupaten Bone Rohzali Putra Badaruddin saat menjadi narasumber dan berdiskusi bersama peserta PKKMB Universitas Andi Sudirman Bone, Rabu (9/9/2026).

Bone, Badan Pengawas Pemilihan Umum – Menjadi mahasiswa bukan hanya soal mendapatkan gelar, tetapi juga ruang untuk memperluas pengetahuan dan membangun cara berpikir kritis. Hal tersebut disampaikan Anggota Bawaslu Kabupaten Bone, Rohzali Putra Badaruddin, saat berdiskusi bersama peserta Pengenalan Kehidupan Kampus bagi Mahasiswa Baru (PKKMB) Universitas Andi Sudirman Bone mengenai mengenai pentingnya keterlibatan generasi muda dalam menjaga kualitas demokrasi, Rabu (9/9/2026).

Rohzali mengatakan, masa depan setiap orang memang berada di tangan masing-masing, tetapi arah masa depan juga sangat dipengaruhi oleh kebijakan politik. Berbagai kebijakan pemerintah, mulai dari pendidikan, beasiswa, pekerjaan hingga pembangunan, merupakan keputusan yang lahir dari proses politik. Karena itu, mahasiswa perlu memahami demokrasi dan tidak bersikap apatis terhadap persoalan di sekitarnya. 

“Masa depan kita memang kita yang menentukan. Tetapi kebijakan politik juga ikut menentukan seperti apa masa depan yang kita jalani. Karena itu, kita harus tahu, peduli, dan ikut mengambil tindakan,” ujar Rohzali.

Dalam diskusi, Rohzali juga mengajak mahasiswa melihat lebih dekat berbagai persoalan yang masih terjadi dalam pemilu, khususnya politik uang dan intervensi terhadap pemilih. Ia mengingatkan bahwa pilihan politik yang ditukar dengan sejumlah uang mungkin terasa menguntungkan dalam waktu singkat, tetapi dampaknya bisa jauh lebih panjang. Ketika masyarakat memilih hanya karena pertimbangan materi, kualitas pemimpin dan kebijakan yang dihasilkan juga berpotensi ikut dipertaruhkan. 

“Kalau hanya karena sejumlah nilai materi kita mengorbankan ruang demokrasi, yakin bahwa kita tidak akan mendapatkan apa-apa. Lima atau sepuluh tahun ke depan, adik-adik inilah yang akan menjadi pengambil kebijakan,” tegasnya.

Pandangan tersebut mendapat respons dari salah satu mahasiswa Program Studi S1 Hukum. Menurutnya, salah satu cara menjaga demokrasi adalah tidak mudah mengikuti pilihan orang lain dan mulai melihat rekam jejak setiap peserta pemilu. Ia menilai generasi Z harus lebih kritis dalam melihat informasi, terutama di tengah banyaknya informasi yang beredar. 

“Jangan pernah mengikuti kata orang lain. Ketika melaksanakan pemilu, kita harus melihat rekam jejak dari peserta pemilu,” kata Asrul. Ia juga mengingatkan agar generasi muda tidak tergoda menerima suap, karena uang ratusan ribu hingga jutaan rupiah yang diterima sesaat dapat berdampak terhadap masa depan demokrasi.

Menanggapi persoalan tersebut, Rohzali mendorong mahasiswa untuk tidak berhenti pada pemahaman, tetapi mulai mengambil peran. Menurutnya, mahasiswa dapat memanfaatkan ruang kampus untuk memperluas wawasan melalui organisasi, diskusi, membaca, penelitian, maupun kegiatan lain yang mendorong kemampuan berpikir kritis. Bawaslu Bone, kata dia, juga terbuka bagi mahasiswa yang ingin belajar kepemiluan, berkonsultasi, melakukan penelitian, maupun menyampaikan informasi terkait dugaan pelanggaran pemilu. 

“Kalau ingin masa depan kita lebih baik, jangan hanya datang, duduk, lalu pulang. Keluar dari zona nyaman. Banyak mencari tahu, peduli terhadap persoalan demokrasi, kemudian berani mengambil tindakan,” pungkas Rohzali.

Penulis dan Foto: Lutfi Fachrullah