Bukan Sekadar Memilih, Mahasiswa Diajak Membayangkan Nasibnya Lima Tahun Lagi
|
Bone, Badan Pengawas Pemilihan Umum – Membuka diskusi dalam Pengenalan Kehidupan Kampus Mahasiswa Baru (PKKMB) Universitas Muhammadiyah Bone, Rohzali Putra Badaruddin, Anggota Bawaslu Bone mengajak generasi muda melihat bahwa keputusan politik hari ini punya konsekuensi terhadap kehidupan mereka pada masa mendatang.
“Lima tahun ke depan itu ditentukan oleh Anda semua. Kita semua,” ujarnya.
Ia sengaja tidak memulai pembicaraan dengan pasal, undang-undang, atau teori politik. Mahasiswa justru diajak membayangkan diri mereka sendiri lima hingga sepuluh tahun mendatang.
Sebab, demokrasi menurutnya bukan sekadar urusan elite politik atau sesuatu yang hanya ramai ketika masa pemilu tiba. Demokrasi pada akhirnya bersinggungan langsung dengan kehidupan sehari-hari: pekerjaan, pendidikan, kebijakan pemerintah, hingga masa depan keluarga.
Suasana diskusi kemudian berubah ketika mahasiswa ditanya tentang pengalaman menggunakan hak pilih.
“Atas dasar apa Anda memilih seseorang?” tanyanya.
Jawaban yang muncul beragam. Ada yang memilih karena satu kampung, karena kedekatan, karena tekanan, bahkan karena janji tertentu.
Lalu pertanyaan berikutnya menjadi lebih sederhana, tetapi jauh lebih menggelitik.
“Kalau ada yang memberikan tujuh juta rupiah untuk memilihnya, mau?”
Sebagian peserta menjawab spontan. “Mau.”
Namun pertanyaan itu belum selesai.
Bagaimana jika uang tersebut kemudian diketahui sebagai praktik politik uang dan berujung pada proses hukum serta hukuman?
Jawabannya berubah, “Tidak mau.”
Dari percakapan ringan itu, mahasiswa diajak melihat persoalan yang lebih besar: berapa sebenarnya harga sebuah suara?
Tujuh juta rupiah mungkin terasa besar untuk diterima sesaat. Tetapi suara yang ditukar dengan uang dapat membawa dampak jauh lebih panjang daripada nilai uang yang diterima.
Pilihan di bilik suara, kata dia, bukan sekadar memilih siapa yang duduk di kursi kekuasaan. Pilihan tersebut turut menentukan siapa yang nantinya membuat kebijakan yang berpengaruh terhadap kehidupan masyarakat.
Diskusi kemudian bergeser pada persoalan lain: golput. Sejumlah mahasiswa mengaku belum pernah menggunakan hak pilih. Ada yang belum cukup umur saat pemilu sebelumnya, ada pula yang sudah memenuhi syarat tetapi tidak datang ke TPS.
Pertanyaan sederhana kembali dilemparkan: mengapa tidak memilih?
Jawabannya beragam.
Dari sana, mahasiswa kembali diajak memahami bahwa demokrasi tidak hanya membutuhkan pemilih yang datang ke TPS, tetapi juga warga negara yang memahami alasan di balik pilihannya.
Memilih karena uang, tekanan, kedekatan emosional, atau sekadar ikut-ikutan tentu berbeda dengan memilih karena memahami rekam jejak, gagasan, dan kemampuan calon.
Karena itu, pendidikan demokrasi tidak cukup berhenti pada ajakan untuk mencoblos. Yang jauh lebih penting adalah membangun keberanian untuk berpikir kritis sebelum menentukan pilihan.
Dunia kampus menjadi ruang penting untuk itu. Di sinilah mahasiswa ditempa untuk bertanya, mempertanyakan informasi, membandingkan gagasan, dan tidak mudah menerima sesuatu hanya karena banyak orang mengatakannya.
Bawaslu Bone mengapresiasi Universitas Muhammadiyah Bone yang turut mendorong kemajuan demokrasi melalui pelibatan Bawaslu dalam rangkaian PKKMB. Ruang tersebut dinilai penting untuk memperkenalkan nilai-nilai demokrasi kepada mahasiswa sejak awal mereka memasuki dunia kampus.
Pada akhirnya, masa depan demokrasi tidak hanya ditentukan oleh mereka yang saat ini duduk di kursi pemerintahan.Ia juga ditentukan oleh mahasiswa yang hari ini duduk di ruang kuliah, berdiskusi, dan mulai menentukan sikap politiknya.
Bisa jadi, lima atau sepuluh tahun lagi, mereka benar-benar menjadi guru, ASN, profesional, pengusaha, kepala daerah, bahkan menteri. Dan ketika saat itu tiba, keputusan-keputusan politik yang mereka ambil hari ini akan menjadi bagian dari cerita tentang bangsa seperti apa yang ingin mereka bangun.
Sebab demokrasi bukan hanya tentang siapa yang kita pilih. Demokrasi adalah tentang masa depan seperti apa yang kita pilih untuk kita jalani bersama.
Editor dan Foto: Lutfi Fachrullah