Lompat ke isi utama

Berita

Hijrah Demokrasi: Percakapan di Sudut Kafe pada Awal Muharram

Hijrahdemokrasi

Ilustrasi gambar Hijrah Demokrasi

Libur Tahun Baru Islam selalu menghadirkan suasana yang berbeda.

Pagi itu, saya memilih menghabiskan waktu di sebuah kafe kecilyang tidak terlalu ramai. Tidak ada agenda resmi, tidak adarapat, tidak ada forum diskusi yang harus saya hadiri. Hanya secangkir kopi hitam, sebuah buku yang belum selesai dibaca, dan suasana yang bergerak pelan di luar jendela.

Dari sudut tempat saya duduk, saya bisa melihat lalu lalangkendaraan yang tidak seramai hari kerja. Beberapa keluargatampak menikmati liburan. Sekelompok anak muda sibukmengabadikan momen dengan telepon genggam mereka. Di meja sebelah, dua orang tampak berbincang tentang bisnis. Sementara dari pengeras suara kafe, terdengar lantunan musikyang pelan dan menenangkan.

Semua tampak biasa.

Sampai kemudian saya melihat tanggal di layar ponsel.

1 Muharram.

Tahun baru dalam kalender Islam.

Entah mengapa, setiap Muharram selalu membuat saya berpikirlebih jauh dari sekadar pergantian angka. Ada sesuatu dalamperistiwa hijrah yang selalu terasa relevan, bahkan lebih relevandibanding banyak peringatan tahunan lainnya.

Saya menyesap kopi perlahan.

Lalu seperti biasa, suara itu muncul.

Suara yang sering datang ketika saya sedang sendirian.

"Apa yang sedang kau pikirkan?"

"Tahun Baru Islam," jawab saya dalam hati.

"Tentang hijrah?"

"Ya."

"Hijrah yang mana?"

Saya tersenyum kecil.

Karena pertanyaan itu memang tidak sederhana.

Bukankah selama ini kita terlalu sering memaknai hijrah sebagaiurusan pribadi?

Hijrah cara berpakaian.

Hijrah gaya hidup.

Hijrah kebiasaan.

Semuanya penting.

Tetapi pagi itu saya justru memikirkan sesuatu yang lain.

Saya memikirkan demokrasi.

Di luar jendela, seorang pengemudi ojek online berhenti sejenaksambil memeriksa telepon genggamnya. Di seberang jalan, beberapa stiker calon bekas pemilu masih melekat di motornyadengan wajah kandidat mulai memudar diterpa cuaca.

Saya memandangnya beberapa saat.

Lalu suara itu kembali bertanya.

"Mengapa di hari libur seperti ini kau malah memikirkandemokrasi?"

Karena saya merasa demokrasi kita sedang berada di persimpangan yang tidak sederhana.

"Bukankah pemilu sudah selesai?"

Nah, itu dia persoalannya.

Terlalu banyak orang yang menganggap demokrasi selesaiketika pemilu selesai.

Seolah-olah demokrasi hanya berlangsung di TPS.

Seolah-olah tugas warga negara berakhir ketika tinta menempeldi jari.

Padahal demokrasi justru diuji setelah pemilu berakhir.

Di situlah kualitas sesungguhnya terlihat.

Saya kembali menyeruput kopi yang mulai hangat-hangat kuku.

Lalu saya bertanya kepada diri sendiri:

Mengapa setiap pemilu kita begitu antusias?

Tetapi setelah pemilu selesai, kita begitu cepat kehilanganminat?

Mengapa kita rela menghabiskan berjam-jam memperdebatkankandidat?

Tetapi jarang meluangkan waktu untuk memahami kebijakanpublik?

Mengapa kita begitu bersemangat menjadi pendukung?

Tetapi tidak cukup serius menjadi pengawas?

Pertanyaan-pertanyaan itu berputar dalam kepala saya.

Dan semakin dipikirkan, semakin terasa mengganggu.

Karena sesungguhnya demokrasi bukan kekurangan prosedur.

Demokrasi kita memiliki pemilu.

Memiliki lembaga negara.

Memiliki sistem pengawasan.

Memiliki aturan yang terus diperbaiki.

Namun mengapa kualitas demokrasi masih sering menjadibahan perdebatan?

Mungkin karena persoalannya bukan lagi terletak pada sistem.

Persoalannya terletak pada kesadaran.

"Kesadaran siapa?"

Suara itu kembali bertanya.

Saya terdiam beberapa saat.

Lalu menjawab pelan.

"Kesadaran kita semua."

Sebab terlalu mudah menyalahkan elite politik.

Terlalu mudah menyalahkan partai.

Terlalu mudah menyalahkan pemerintah.

Tetapi pernahkah kita bertanya:

Sudahkah kita menjadi warga negara yang baik?

Saya teringat firman Allah SWT:

"Sesungguhnya Allah tidak akan mengubah keadaan suatu kaumsehingga mereka mengubah keadaan yang ada pada diri merekasendiri." (QS. Ar-Ra'd: 11).

Ayat ini tiba-tiba terasa sangat politis.

Bukan dalam pengertian partisan.

Melainkan dalam makna perubahan sosial.

Allah tidak mengatakan perubahan akan datang dari pemimpinsemata.

Allah tidak mengatakan perubahan akan datang dari penguasasemata.

Perubahan dimulai dari masyarakat itu sendiri.

Dari kesadaran kolektif.

Dari kemauan untuk berubah.

Bukankah itu juga inti demokrasi?

Di meja sebelah, beberapa mahasiswa sedang berdiskusi. Sesekali saya mendengar mereka menyebut kata "politik".

Menarik.

Karena di kalangan anak muda hari ini, politik sering dipandangdengan dua cara yang ekstrem.

Ada yang terlalu fanatik.

Ada pula yang terlalu apatis.

Yang fanatik menganggap politik sebagai pertarungan identitas.

Yang apatis menganggap politik tidak penting.

Padahal keduanya sama-sama berbahaya.

Suara dalam diri saya kembali bertanya.

"Mengapa banyak orang kecewa pada demokrasi?"

Karena mereka berharap demokrasi menghasilkankesempurnaan.

Padahal demokrasi tidak pernah menjanjikan itu.

Demokrasi hanya menyediakan ruang agar masyarakat dapatterus memperbaiki dirinya.

Demokrasi bukan tujuan akhir.

Demokrasi adalah proses belajar yang tidak pernah selesai.

Belajar berbeda pendapat.

Belajar menghormati pilihan orang lain.

Belajar menerima kekalahan.

Belajar mengawasi kekuasaan.

Belajar bertanggung jawab.

Dan seperti proses belajar lainnya, hasilnya tidak pernah instan.

Kopi saya hampir habis.

Tetapi percakapan itu belum selesai.

"Kalau begitu, apa makna hijrah bagi demokrasi?"

Pertanyaan itu membuat saya memandang kembali keramaian di luar kafe.

Orang-orang berjalan dengan urusannya masing-masing.

Mungkin sebagian besar dari mereka tidak sedang memikirkandemokrasi.

Dan itu wajar.

Namun saya percaya bahwa masa depan demokrasi tidakditentukan oleh seberapa sering kita membicarakannya.

Masa depan demokrasi ditentukan oleh seberapa jauh kitamenjalankannya dalam kehidupan sehari-hari.

Maka hijrah demokrasi yang saya bayangkan hari ini bukanlahsesuatu yang besar dan heroik.

Ia justru sederhana.

Hijrah dari kebiasaan menyebarkan informasi yang belumterverifikasi menuju budaya cek fakta.

Hijrah dari politik kebencian menuju politik gagasan.

Hijrah dari memilih karena uang menuju memilih karenaintegritas.

Hijrah dari mengeluh tentang negara menuju ikut memperbaikinegara.

Hijrah dari menjadi penonton menuju menjadi warga negara yang aktif.

Matahari semakin tinggi.

Kafe mulai dipenuhi pengunjung baru.

Saya melihat kembali tanggal di layar ponsel.

1 Muharram.

Tahun baru.

Momentum hijrah.

Dan tiba-tiba saya menyadari sesuatu.

Selama ini kita sering bertanya:

"Apa yang akan dilakukan pemimpin untuk memperbaikidemokrasi?"

Padahal mungkin pertanyaan yang lebih penting adalah:

"Apa yang akan saya lakukan untuk memperbaiki demokrasi?"

Karena demokrasi tidak dibangun oleh gedung-gedung megah.

Tidak pula hanya oleh pemimpin yang hebat.

Demokrasi dibangun oleh jutaan tindakan kecil warga negara yang memilih untuk peduli.

Dan di sudut kafe pada pagi Muharram itu, saya merasa hijrahyang paling sulit ternyata bukan berpindah tempat.

Melainkan berpindah cara berpikir.

Dari keyakinan bahwa perubahan adalah tugas orang lain, menuju kesadaran bahwa perubahan selalu dimulai dari dirisendiri.

Mungkin itulah pelajaran paling penting yang dibawa Muharram setiap tahun: bahwa peradaban tidak berubah karena waktu yang berganti, tetapi karena manusia yang memutuskan untukberubah bersama waktu itu.

Penulis: Rohzali Putra Badaruddin
Editor dan Gambar: Lutfi