Lompat ke isi utama

Berita

Menjaga Warisan, Mengawal Demokrasi: Refleksi Hari Jadi Bone ke-696

Hjb 696

Ucapan Selamat Hari Jadi Bone ke-696 dari Keluarga Besar Bawaslu Kabupaten Bone

Momentum Hari Jadi ke 696 Bone bukan sekadar penanda usia, tetapi peristiwa kebudayaan—sebuah titik di mana sejarah, nilai, dan harapan bertemu. Bone tidak hanya diwarisi sebagai wilayah administratif, melainkan sebagai ruang hidup yang dibangun di atas falsafah Bugis yang dalam, yang hingga kini tetap relevan dalam membaca dan merawat demokrasi.

Dalam khazanah Bugis, terdapat prinsip “Tellu Cappa” , ujung lidah, ujung badik, dan ujung kemaluan yang melambangkan kehormatan, keberanian, dan martabat. Filosofi ini mengajarkan bahwa setiap tindakan manusia harus dijaga dalam tiga ranah utama: perkataan yang jujur, sikap yang tegas, dan kehormatan diri yang tidak ternodai. Jika ditarik ke dalam konteks demokrasi, maka “ujung lidah” adalah komitmen terhadap kejujuran politik, “ujung badik” adalah keberanian menegakkan aturan, dan “ujung kemaluan” adalah integritas moral yang tidak dapat ditawar.

Nilai lain yang tak kalah penting adalah “Resopa Temmangingngi, Namalomo Naletei Pammase Dewata”. Kerja keras yang tidak mengenal lelah akan mengundang rahmat Tuhan. Dalam demokrasi, ini berarti bahwa kualitas pemilu tidak lahir dari proses instan, tetapi dari kerja panjang yang disiplin, konsisten, dan penuh tanggung jawab. Di sinilah peran Bawaslu Bone menjadi vital, memastikan setiap tahapan pemilu dijalankan dengan kesungguhan, bukan sekadar formalitas.

Filosofi “Mali’ Siparappe, Rebba Sipatokkong”. Saling mengingatkan ketika khilaf, saling menopang ketika jatuh menjadi dasar etika kolektif masyarakat Bone. Demokrasi yang sehat bukan hanya dibangun oleh lembaga, tetapi oleh partisipasi warga yang aktif saling mengawasi dan menguatkan. Dalam konteks pengawasan pemilu, masyarakat bukan objek, melainkan subjek yang memiliki tanggung jawab moral untuk menjaga proses tetap bersih.

Tidak kalah penting adalah konsep “Lempu” (kejujuran) dan “Getteng” (keteguhan). Lempu’ menuntut setiap aktor demokrasi untuk tidak memanipulasi kebenaran, sementara Getteng menuntut konsistensi dalam memegang prinsip, meskipun dihadapkan pada tekanan atau godaan. Tanpa dua nilai ini, demokrasi akan mudah tergelincir menjadi sekadar prosedur tanpa makna.

Sementara itu, “Acca” (kecerdasan) dalam perspektif Bugis bukan hanya soal intelektual, tetapi kebijaksanaan dalam bertindak. Ini relevan dalam menghadapi tantangan modern seperti disinformasi dan politik identitas. Demokrasi hari ini membutuhkan bukan hanya pemilih yang cerdas, tetapi juga pengawas yang bijak—yang mampu memilah informasi, memahami regulasi, dan bertindak proporsional. Dalam kerangka ini, peran Bawaslu RI hingga ke daerah menjadi penting sebagai fasilitator literasi demokrasi.

Lebih jauh, falsafah “Siri’ na Pacce” tetap menjadi jantung moral masyarakat Bugis. Siri’ adalah rasa malu ketika melakukan pelanggaran, sementara Pacce adalah empati terhadap penderitaan orang lain. Jika nilai ini benar-benar dihidupkan, maka praktik politik uang, manipulasi suara, atau kecurangan lainnya tidak hanya dianggap melanggar hukum, tetapi juga mencederai harga diri kolektif.

Sebagai penegasan, Hari Jadi Bone ke-696 bukan hanya tentang merayakan perjalanan panjang, tetapi memastikan bahwa setiap langkah ke depan tetap berpijak pada nilai. Filosofi Bugis telah memberi kita kompas yang jelas: lempu’ dalam kejujuran, getteng dalam keteguhan, acca dalam kebijaksanaan, serta siri’ na pacce sebagai penjaga martabat. Jika nilai-nilai ini benar-benar dihidupkan, maka demokrasi di Bone tidak akan sekadar prosedural, tetapi substantif berjiwa, beretika, dan berkeadaban.

Dalam kerangka itulah, peran Bawaslu Bone menjadi semakin bermakna, bukan hanya sebagai pengawas, tetapi sebagai penjaga nilai. Namun lebih dari itu, masyarakat Bone sendirilah yang menjadi benteng utama. Sebab demokrasi yang kuat tidak hanya lahir dari regulasi, melainkan dari kesadaran kolektif yang tumbuh dari akar budaya.

Maka, merawat Bone hari ini adalah merawat integritas, menjaga agar setiap proses, setiap pilihan, dan setiap keputusan tetap berada dalam koridor kejujuran dan keadilan. Itulah bentuk penghormatan paling nyata terhadap warisan leluhur.

Selamat Hari Jadi ke-696 Bone.
Semoga tetap teguh sebagai tanah yang menjunjung nilai, kuat dalam menjaga martabat, dan dewasa dalam berdemokrasi.

Penulis: Ijal 
Gambar Ilustrasi: Chaeril 
Editor: Tim Humas Bawaslu Bone