Lompat ke isi utama

Berita

Menuju Pemilu 2029, Bawaslu Sulsel Dorong Pemuda Toraja Jadi Demokrasi yang Cerdas

andarias duma

Anggota Bawaslu Sulsel, Andarias Duma', saat memberikan materi sosialisasi pengawasan partisipatif kepemiluan pada kegiatan Pembinaan dan Katekisasi Pemuda Gereja Toraja di Rantepao, Sabtu (23/05/2026). Dalam forum tersebut, ia mengajak calon pemilih pemula untuk menggunakan hak konstitusionalnya secara cerdas, menolak politik uang, serta bijak dalam menyaring informasi di media sosial.

Makassar, Badan Pengawas Pemilihan Umum – Anggota Bawaslu Provinsi Sulawesi Selatan, Andarias Duma', membawakan materi sosialisasi pengawasan partisipatif di hadapan ratusan pemuda dalam kegiatan Pembinaan dan Katekisasi Pemuda Gereja Toraja yang didominasi oleh calon pemilih pemula di Rantepao, Sabtu (23/05/2026). Kegiatan ini mengangkat tema strategis “Tabukah Berpolitik: Refleksi Iman, Tanggung Jawab Warga Negara, dan Kesadaran Demokrasi Menghadapi Pemilu 2029”.

Dalam arahannya, Andarias menegaskan bahwa keterlibatan umat beragama, khususnya pemuda Kristen, dalam urusan politik dan demokrasi bukanlah sesuatu yang tabu. Menurutnya, orang percaya tidak dilarang untuk peduli terhadap bangsa dan masyarakat, melainkan justru dipanggil untuk membawa damai, menegakkan keadilan, serta menjadi terang di tengah kehidupan bersama.

"Politik bukan sesuatu yang tabu karena politik berbicara tentang kehidupan bersama dan masa depan bangsa. Yang harus kita jauhi bersama bukanlah politiknya, melainkan kebohongan, kebencian, korupsi, serta praktik penyalahgunaan kekuasaan," tegas Andarias di hadapan para pemuda Toraja.

Lebih lanjut, Andarias menggarisbawahi urgensi peran pemuda dalam menyongsong Pemilu 2029 mendatang. Pada kontestasi tersebut, para peserta akan menggunakan hak pilihnya untuk pertama kali sebagai pemilih pemula. Ia mengingatkan bahwa hak suara yang dimiliki sangat berharga dalam menentukan arah masa depan bangsa, sehingga tidak boleh disia-siakan.

Ia juga membagikan empat poin utama untuk menjadi pemilih pemula yang cerdas dan beriman. Pertama, memilih berdasarkan karakter dan rekam jejak, bukan sekadar popularitas atau viral di media sosial. Kedua, bijak dalam menggunakan media sosial dengan menyaring kebenaran informasi sebelum membagikannya guna menghindari penyebaran hoaks. Ketiga, menolak dengan tegas praktik politik uang, dan keempat, senantiasa menjadi pembawa damai demi menjaga persaudaraan di tengah perbedaan pilihan.

“Iman yang dewasa bukan hanya aktif di dalam lingkungan peribadatan saja, tetapi juga diwujudkan melalui kepedulian terhadap keadilan dan masa depan masyarakat. Jangan tunggu tua untuk peduli pada bangsa, karena masa depan Indonesia ada di tangan generasi muda. Pemilih muda bukan hanya pewaris bangsa, tetapi penentu arah bangsa,” tuturnya.

Melalui sosialisasi ini, Bawaslu Sulawesi Selatan berharap pemuda Gereja Toraja dapat tumbuh menjadi generasi pengawas partisipatif yang jujur, cerdas, serta mampu menjadi pembawa damai dan terang di tengah dinamika perkembangan demokrasi siber.

Penulis: Chaidir
Editor: Humas Bawaslu Bone