Lebih Baik Ditekan daripada Dipuji: Pesan yang Menggetarkan Ruang Rakor Bawaslu Bone
|
Bone, Badan Pengawas Pemilihan Umum - Ada suasana yang berbeda di sekretariat Bawaslu Kabupaten Bone, Jumat, 8 Mei 2026. Bukan sekadar forum rapat biasa. Bukan pula hanya agenda rutin kelembagaan.
Di ruang itu, para pengawas pemilu seperti diajak bercermin tentang arti kehadiran, tentang tekanan, dan tentang bagaimana integritas sering kali diuji bukan ketika ramai sorotan, tetapi justru saat suasana terasa sunyi.
Rapat Koordinasi Penyelesaian Sengketa Proses yang berlangsung hari itu menghadirkan Koordinator Divisi Penyelesaian Sengketa Bawaslu Provinsi Sulawesi Selatan, Dr. Adnan Jamal. Namun yang paling membekas bukan hanya materi rapat, melainkan pesan-pesan reflektif yang disampaikannya kepada seluruh peserta.
Di tengah masa non-tahapan pemilu, fase yang sering dianggap sebagai masa jeda. Dr. Adnan mengingatkan bahwa justru pada masa seperti inilah kualitas seseorang sebenarnya dibentuk.
“Penting untuk memaksimalkan waktu dalam peningkatan kapasitas, keterampilan, dan pengetahuan. Kehadiran kita harus memiliki value,” ujarnya.
Kalimat itu menggantung cukup lama di ruang rapat. Seolah menjadi pengingat bahwa dalam kerja-kerja demokrasi, hadir saja tidak cukup. Jabatan tidak cukup. Rutinitas pun tidak cukup. Yang dibutuhkan adalah manusia-manusia yang terus bertumbuh, terus belajar, dan tetap menjaga kualitas dirinya meski tidak sedang berada di panggung perhatian.
Bagi lembaga pengawas pemilu, tekanan memang bukan sesuatu yang asing. Kritik datang dari berbagai arah. Ekspektasi publik sering kali tinggi. Sementara kerja-kerja pengawasan kerap tidak selalu menghadirkan tepuk tangan.
Dan mungkin karena itulah, suasana ruang rapat mendadak terasa lebih hening ketika Dr. Adnan menyampaikan satu kalimat yang sederhana, namun menghantam kesadaran banyak orang.
“Lebih baik bekerja di bawah tekanan, daripada bekerja dalam pujian.” Kalimat itu tidak terdengar seperti motivasi biasa. Ia terdengar seperti pengalaman panjang yang dirangkum dalam satu napas. Sebab pujian sering membuat manusia cepat puas, sementara tekanan memaksa seseorang untuk tumbuh, bertahan, dan membuktikan kualitas dirinya.
Di ruang itu, para peserta tidak hanya sedang membahas sengketa proses. Mereka sedang diingatkan tentang tanggung jawab moral menjaga demokrasi. Bahwa menjadi pengawas pemilu bukan sekadar menjalankan tugas administratif, melainkan tentang menjaga kepercayaan publik dengan integritas yang tetap tegak meski diterpa tekanan.
Rakor tersebut kemudian menjadi lebih dari sekadar forum koordinasi. Ia berubah menjadi ruang penguatan mental dan kesadaran kelembagaan. Sebuah pengingat bahwa demokrasi tidak hanya dijaga saat tahapan dimulai, tetapi juga dipersiapkan jauh sebelumnya melalui peningkatan kapasitas, penguatan pengetahuan, dan keteguhan karakter orang-orang di dalamnya.
Dan Jumat itu, di sekretariat Bawaslu Kabupaten Bone, semua yang hadir seolah pulang membawa satu kesadaran yang sama:
bahwa tekanan mungkin melelahkan, tetapi dari sanalah integritas sering lahir dan dibuktikan.
Penulis: Ijal
Editor dan Foto: Lutfi