Lompat ke isi utama

Berita

Dari Ikhtiar ke Tawakal, Yusti Ingatkan Keseimbangan dalam Menjaga Demokrasi

yusti

Tangkapan layar youtube Bawaslu RI, Deputi Bidang Dukungan Teknis Bawaslu Yusti Erlina dalam kultum Ngabuburit Pengawasan dengan tema 'Penguatan Dukungan Teknis Pengawasan Pemilu' melalui daring, Selasa (3/3/2026).

Jakarta, Badan Pengawas Pemilihan Umum – Deputi Bidang Dukungan Teknis Bawaslu, Yusti Erlina, menegaskan bahwa ikhtiar, doa, dan tawakal menjadi tiga fondasi penting dalam memperkuat kerja-kerja pengawasan pemilu. Ketiganya, menurut dia, bukan sekadar nilai spiritual, tetapi juga amanah yang melekat sebagai tanggung jawab lembaga dan manusia kepada Sang Pencipta.

Hal itu disampaikan Yusti saat memberikan kultum dalam kegiatan Ngabuburit Pengawasan bertema Penguatan Dukungan Teknis Pengawasan Pemilu yang digelar secara daring, Selasa (3/3/2026). Ia mengingatkan, agama tidak pernah mengajarkan umatnya untuk berpangku tangan, melainkan mendorong untuk berusaha secara maksimal.

“Ikhtiar adalah usaha terbaik yang harus kita lakukan. Agama kita tidak mengajarkan untuk diam tanpa upaya, tetapi mendorong kita bekerja sebaik-baiknya,” ujarnya.

Yusti mencontohkan teladan Rasulullah SAW yang selalu mempersiapkan segala sesuatu dengan matang, termasuk strategi dan logistik dalam setiap peperangan. Baginya, hal itu menunjukkan bahwa ikhtiar adalah bagian dari sunnah yang harus dijalankan dengan sungguh-sungguh.

Dalam konteks tugas Bawaslu, ia mengajak seluruh jajaran memperkuat dukungan teknis pengawasan, termasuk mengoptimalkan layanan publik dan sistem digital yang telah dimiliki, seperti Siwaslu, Sigaplapor, dan SIPS. Menurutnya, berbagai instrumen tersebut perlu terus ditingkatkan dan diintegrasikan agar pengawasan berjalan lebih efektif dan efisien.

“Sekarang adalah waktu yang tepat bagi kita untuk membenahi kekurangan dan menyempurnakan sistem yang ada agar semakin kuat ke depan,” katanya.

Selain ikhtiar, Yusti menekankan pentingnya doa sebagai penguat setiap usaha. Ia mengingatkan bahwa keberhasilan tetap terjadi atas izin Allah SWT.

“Rasulullah SAW mengajarkan bahwa doa adalah senjata orang beriman. Karena itu, setiap usaha harus selalu dibarengi doa,” jelasnya.

Setelah ikhtiar dan doa dilakukan, lanjutnya, sikap tawakal menjadi kunci penyeimbang. Tawakal bukan berarti pasrah tanpa usaha, tetapi berserah diri setelah bekerja maksimal.

“Keseimbangan antara ikhtiar, doa, dan tawakal akan melahirkan sikap profesional. Usaha tanpa doa bisa membuat kita sombong. Sebaliknya, doa tanpa usaha justru membuat kita lalai,” tegasnya.

Melalui prinsip tersebut, Yusti berharap seluruh jajaran Bawaslu tetap amanah dan profesional dalam menjalankan tugas, demi menjaga kualitas demokrasi Indonesia yang semakin baik.

Naskah: BSW
Editor: Humas Bawaslu Bone