Disiplin dalam Kesunyian, Ketahanan dalam Demokrasi
|
Badan Pengawas Pemilihan Umum Kabupaten Bone, 24 Februari 2026 — Setelah hari pertama menegaskan integritas sebagai fondasi dan hari kedua mengakui bahwa kepercayaan publik sedang diuji, refleksi Ramadhan yang disiarkan melalui Live TikTok oleh Badan Pengawas Pemilihan Umum Kabupaten Bone kini memasuki hari keenam dengan penekanan yang lebih tenang namun lebih mendasar: ketahanan. Jika fondasi telah diletakkan dan ujian telah disadari, maka pertanyaan berikutnya bukan lagi tentang apa yang kurang, melainkan tentang apa yang membuat demokrasi mampu bertahan dalam jangka panjang.
Demokrasi kerap tampak paling hidup pada momentum-momentum besar, kampanye, debat publik, atau hari pemungutan suara. Namun setelah euforia mereda, ruang publik kembali sunyi. Sorotan berkurang, partisipasi melandai, dan perhatian bergeser. Justru di ruang yang tidak riuh itulah kualitas demokrasi diuji.
Sebagaimana ditegaskan oleh Robert A. Dahl, demokrasi yang sehat tidak hanya ditentukan oleh legitimasi elektoral, tetapi oleh partisipasi yang berkelanjutan serta kontrol publik yang konsisten terhadap kekuasaan. Demokrasi bukan peristiwa sesaat, melainkan proses panjang yang menuntut kedewasaan kolektif.
Ramadhan mengajarkan pola yang serupa. Hari keenam bukan lagi tentang semangat awal atau adaptasi fisik. Tubuh mulai terbiasa, ritme telah terbentuk, dan komitmen diuji tanpa dramatisasi. Tidak ada lagi romantisme hari pertama, tidak pula kegelisahan hari kedua. Yang tersisa adalah disiplin dalam kesunyian. Puasa tetap dijalankan meski tidak ada yang memperhatikan. Nilainya justru terletak pada konsistensi yang tak bergantung pada sorotan.
Demokrasi membutuhkan karakter seperti itu. Integritas penyelenggara, akuntabilitas pejabat publik, dan partisipasi warga tidak boleh bergantung pada kamera atau trending topic. Ketika etika hanya muncul saat diawasi, maka ia belum menjadi budaya. Ketahanan demokrasi lahir dari kebiasaan baik yang diulang secara konsisten dari keputusan-keputusan kecil yang tetap setia pada prinsip, bahkan ketika kompromi tampak lebih mudah.
Demokrasi jarang runtuh karena satu peristiwa besar. Ia melemah perlahan ketika pelanggaran kecil ditoleransi, ketika standar diturunkan demi kenyamanan, dan ketika disiplin dianggap berlebihan. Dalam konteks inilah hari keenam Ramadhan menjadi metafora yang kuat: komitmen sejati tidak bergantung pada riuhnya awal, melainkan pada kemampuan menjaga api nilai dalam keheningan.
Jika hari pertama berbicara tentang fondasi dan hari kedua tentang jiwa, maka hari keenam berbicara tentang daya tahan moral. Ketahanan bukan berarti tanpa kesalahan, melainkan kemampuan untuk terus kembali pada prinsip ketika tergelincir.
Pada akhirnya, demokrasi yang bermartabat bukan hanya yang dimulai dengan niat baik, tetapi yang dijaga dengan konsistensi panjang. Seperti puasa yang dipertahankan dari Subuh hingga Magrib, demokrasi menuntut komitmen yang dijaga dari awal mandat hingga akhir tanggung jawab.
Karena dalam kesunyian itulah karakter terlihat jelas. Dan dari karakter yang konsisten, demokrasi menemukan ketahanannya.
Penulis dan Foto: Rohzali