Lompat ke isi utama

Berita

Isu Perang Dunia Ketiga Menggema, Saatnya Bawaslu Bone Bergerak Strategis

rohzali

Gambar ilustrasi

Bone, Badan Pengawas Pemilihan Umum - Beberapa hari terakhir dunia seperti berjalan di atas kaca tipis. Ketegangan antara Iran, Israel, dan Amerika Serikat terus meningkat. Para analis berbicara tentang eskalasi. Media menyebut kemungkinan konflik terbuka. Istilah Perang Dunia Ketiga kembali menghiasi layar gawai kita. Orang orang mulai membayangkan dampaknya. Ekonomi bisa terguncang. Politik global bisa berubah arah.

Namun di sebuah masjid kecil di Bone, selepas tarawih, seorang imam tua berkata pelan kepada jamaahnya, “Perang besar itu sering dimulai dari hati yang tidak adil.” Kalimat itu sederhana, tetapi terasa dalam. Jamaah terdiam. Di luar, angin Ramadhan berhembus pelan. Dunia mungkin sedang gelisah, tetapi malam itu Bone terasa teduh.

Di warung kopi tak jauh dari masjid, pembicaraan tentang konflik global berubah menjadi diskusi yang lebih dekat. “Yang penting di sini jangan sampai ribut karena politik,” kata seorang pemuda. “Kalau lembaga pengawas tegas dan jujur, orang tidak mudah curiga.” Ia tidak menyebut teori demokrasi. Ia hanya berbicara tentang rasa percaya.

Di sinilah letak persoalan yang lebih mendasar. Dalam ilmu politik, stabilitas demokrasi sangat bergantung pada trust atau kepercayaan publik. Francis Fukuyama menyebut kepercayaan sebagai modal sosial yang menentukan apakah institusi bisa bekerja efektif. Tanpa kepercayaan, keputusan yang benar pun bisa dianggap salah. Tanpa legitimasi, aturan hanya menjadi teks kering.

Karena itu, ketika isu perang global menggema, sesungguhnya yang harus kita jaga adalah ketahanan sosial di dalam negeri. Dan dalam konteks lokal, salah satu pilar ketahanan itu adalah Bawaslu Kabupaten Bone.

Undang Undang Nomor 7 Tahun 2017 tentang Pemilihan Umum memberi kewenangan yang jelas kepada Badan Pengawas Pemilihan Umum untuk melakukan pencegahan dan penindakan pelanggaran. Namun kewenangan hukum saja tidak cukup. Yang membuatnya kuat adalah integritas moral para pelaksananya.

Ramadhan mengajarkan integritas itu. Dalam Surah An Nisa ayat 135 Allah memerintahkan agar keadilan ditegakkan walau terhadap diri sendiri. Rasulullah SAW mengingatkan bahwa setiap pemimpin adalah pemegang amanah dan akan dimintai pertanggungjawaban. Pesan ini bukan hanya untuk pejabat tinggi negara. Ia juga berlaku bagi setiap pengawas yang menandatangani rekomendasi, memeriksa laporan, dan mengambil keputusan.

Di tanah Bugis kita mengenal siri na pacce. Siri adalah rasa malu ketika kehormatan dilanggar. Pacce adalah empati yang membuat kita tidak tega melihat ketidakadilan. Jika suara rakyat dicederai, siri seharusnya bangkit. Jika hak politik warga diabaikan, pacce seharusnya terusik. Nilai budaya ini bukan romantisme masa lalu. Ia adalah energi etis yang bisa menguatkan pengawasan.

Maka berbicara tentang langkah strategis tidak cukup hanya dengan slogan. Ada beberapa hal konkret yang bisa menjadi pijakan.

Pertama, memperkuat pengawasan partisipatif berbasis komunitas Ramadhan. Forum diskusi selepas tarawih, dialog kebangsaan di masjid, dan edukasi yang menggunakan bahasa sederhana dapat menjadi ruang membangun kesadaran bersama bahwa menjaga demokrasi adalah ibadah sosial.

Kedua, meningkatkan transparansi digital. Kanal pengaduan yang responsif, publikasi berkala tentang penanganan pelanggaran, serta penjelasan terbuka atas setiap keputusan akan mengurangi ruang spekulasi dan kecurigaan.

Ketiga, konsistensi dalam penindakan tanpa pandang bulu. Dalam teori rule of law, supremasi hukum berarti tidak ada pengecualian. Sekali publik melihat ada keberpihakan, kepercayaan runtuh lebih cepat daripada membangunnya.

Keempat, penguatan integritas internal. Ramadhan adalah momentum refleksi bukan hanya bagi masyarakat, tetapi juga bagi lembaga. Evaluasi internal yang jujur adalah bagian dari langkah strategis itu sendiri.

Dunia mungkin sedang berbicara tentang strategi militer dan aliansi global. Tetapi kita di Bone berbicara tentang strategi menjaga kepercayaan. Karena konflik besar sering lahir dari ketidakadilan kecil yang dibiarkan. Polarisasi muncul ketika orang merasa tidak diperlakukan setara. Ketegangan tumbuh ketika kepercayaan hilang.

Jika dunia khawatir pada kemungkinan Perang Dunia Ketiga, maka kita seharusnya khawatir pada kemungkinan retaknya persaudaraan di kampung kita sendiri. Perdamaian global mungkin berada di luar jangkauan kita. Namun menjaga demokrasi tetap jujur dan adil di daerah kita sepenuhnya berada dalam kendali kita.

Ramadhan memberi kita pelajaran yang sangat sunyi tetapi kuat. Menahan diri. Menjaga lisan. Menguatkan niat. Jika nilai itu hidup dalam setiap langkah pengawasan, maka kita sedang membangun benteng yang jauh lebih kokoh daripada senjata apa pun.

Isu Perang Dunia Ketiga mungkin terus menggema. Tetapi di Bone, kita memilih bergerak strategis. Bukan dengan amarah. Bukan dengan ketakutan. Melainkan dengan integritas, keadilan, dan komitmen menjaga amanah rakyat.

Karena pada akhirnya, dunia tidak hanya diselamatkan oleh kekuatan militer. Dunia diselamatkan oleh keadilan yang dijaga di setiap tempat, sekecil apa pun tempat itu. Dan itu bisa dimulai dari sini. Dari Bone. Dari langkah yang jujur hari ini.

Penulis dan Foto: Rohzali Putra Badaruddin