Lompat ke isi utama

Berita

Ngabuburit Pengawasan 2026, Cara Bawaslu Jawab Tantangan Demokrasi

ngabuburitpengawasan2026-3

Ketua Bawaslu RI Rahmat Bagja saat menyampaikan sambutannya pada Kick Off Ngabuburit Pengawasan 'Penguatan Spirit Kelembagaan Bawaslu tahun 2026 di Gedung Bawaslu, Jakarta (23/2/2026).

Jakarta, Badan Pengawas Pemilihan Umum – Ketua Bawaslu Republik Indonesia (RI) Rahmat Bagja sampaikan rasa syukur bisa kembali menyapa masyarakat di bulan suci ramadhan. Ia mengutip pernyataan Anggota Bawaslu Teh Loli yang menyebut Ramadhan sebagai bulan “pembakaran”, sementara Cak Toto menyebutnya bulan “pembebasan”. “Sudah dibakar, bebas rupanya. Nah, itu mungkin yang penting,” ujarnya saat menyampaikan sambutan pada Ngabuburit Pengawasan 'Penguatan Spirit Kelembagaan Bawaslu tahun 2026 di Gedung Bawaslu, Jakarta (23/2/2026). 

Ia juga mengingatkan bahwa April nanti Bawaslu genap berusia 14 tahun. Menurutnya, lembaga ini dibentuk oleh undang-undang untuk memastikan seluruh proses pemilu berjalan sesuai aturan. “Kami selalu belajar bahwa tujuan tidak boleh menghalalkan cara. Demokrasi itu bukan hanya soal hasil, tapi bagaimana prosesnya dijalankan dengan benar,” katanya. Ia menegaskan, cara yang salah tidak bisa dibenarkan hanya demi mengejar tujuan yang dianggap baik.

Bawaslu, lanjutnya, hadir bukan hanya untuk mengawasi kerja Komisi Pemilihan Umum, tetapi juga peserta pemilu dan demi kepentingan masyarakat luas. Apalagi belakangan, sejumlah putusan Mahkamah Konstitusi semakin menguatkan peran lembaga pengawas pemilu. “Artinya tanggung jawab kita makin besar. Karena itu, kita juga harus makin banyak berbenah,” tegasnya. Ia mengingatkan seluruh komisioner dan staf agar siap menerima kritik, baik yang membangun maupun yang terasa pedas.

Momentum Ramadhan disebutnya sebagai waktu yang tepat untuk refleksi. Ia menyinggung tentang waktu berbuka yang diyakini sebagai saat mustajab untuk berdoa, setelah seharian menahan lapar dan dahaga. Ia bahkan berbagi pengalaman berpuasa hingga 16 jam saat berada di Belanda. “Di situlah momen penting kita berdoa agar kelembagaan ini makin kuat dan makin baik ke depan,” ujarnya.

Dalam kesempatan itu, Bawaslu juga mendorong seluruh jajaran di provinsi dan kabupaten/kota menggelar kegiatan “ngabuburit pengawasan”. Kegiatan tersebut diminta melibatkan masyarakat sekitar, termasuk pelajar yang akan menjadi pemilih pemula pada 2029 serta kelompok disabilitas. Ia menegaskan bahwa kerja pengawasan tidak pernah benar-benar selesai. “Demokrasi itu perjalanan yang tidak ada ujungnya. Tahapan boleh selesai, tapi tanggung jawab menjaga prosesnya tidak pernah berhenti,” katanya.

Menutup sambutannya, ia mengakui ada pandangan yang menyebut demokrasi Indonesia sedang mengalami kemunduran. Namun ia optimistis bahwa secara aturan dan komitmen bersama, bangsa ini masih berada di jalur yang benar. Perbaikan, katanya, bukan hanya tugas Bawaslu, tetapi juga KPU, Dewan Kehormatan Penyelenggara Pemilu, pemerintah, DPR, dan masyarakat. “Kerjakan dengan hati. Kalau hati sudah terlibat, kerja pasti terasa ringan. Semoga Ramadhan ini jadi momentum kita memperkuat semangat membangun demokrasi,” tutupnya.

ngabuburitpengawasan-4

Foto: Nofiar 
Editor: Humas Bawaslu Bone