Lompat ke isi utama

Sudut Literasi

BAWASLU DI MASA NON TAHAPAN : MENJAGA DEMOKRASI SAAT SUNYI

deee

Pemilu sering kali dipandang sebagai pesta demokrasi yang penuh warna. Hiruk pikuk kampanye, spanduk bertebaran di jalan, iklan politik berseliweran di televisi, hingga riuh rendah perdebatan di media sosial menjadi pemandangan sehari-hari. Semua orang membicarakan politik, memilih calon, dan terlibat dalam percakapan tentang masa depan bangsa. Pada saat itu, sorotan publik terhadap penyelenggara pemilu, termasuk Badan Pengawas Pemilihan Umum (Bawaslu), berada di titik puncak. Publik menunggu kiprah Bawaslu untuk menindak pelanggaran, mencegah kecurangan, dan memastikan proses berjalan adil.

Namun, setiap pesta ada akhirnya. Setelah kotak suara ditutup, suara dihitung, dan pemenang diumumkan, suasana kembali hening. Baliho diturunkan, media membicarakan kampanye, berhenti dan masyarakat kembali ke aktivitas sehari-hari. Pada momen inilah banyak orang beranggapan bahwa tugas Bawaslu selesai. Mereka sering dipandang hanya relevan ketika pemilu berlangsung, lalu seakan-akan menghilang setelah pemilu usai. Padahal, kenyataannya tidaklah demikian. 

Baca dan Unduh Tulisan Selengkapnya di bawah ini :

Sudut Literasi