Rohzali Putra Badaruddin (Anggota Bawaslu Bone) - Bencana alam selalu hadir sebagai peristiwa yang memadukan tragedi dan refleksi. Ia mengguncang bukan hanya tanah dan bangunan, tetapi juga cara kita memahami dunia dan peran manusia di dalamnya. Setiap kali banjir melampaui tanggul, setiap kali tanah longsor meluruhkan desa yang tenang, setiap kali angin ribut merobohkan rumah yang kokoh, kita sering terburu-buru menisbatkannya kepada alam semata. Namun, dalam perspektif akademik kontemporer, bencana tidak cukup dipahami sebagai fenomena natural; ia merupakan interaksi kompleks antara dinamika alam dan pilihan-pilihan manusia, termasuk pilihan politik.
Dalam kajian kebencanaan, Wisner dkk. melalui model Pressure and Release (PAR) menjelaskan bahwa bencana terjadi karena tekanan sosial-politik yang telah lama menumpuk. Bahaya alam (hazard) hanyalah satu variabel; yang menentukan tingkat kehancuran adalah kerentanan (vulnerability) yang lahir dari ketidakadilan struktural, tata ruang yang diabaikan, serta kegagalan pemerintahan dalam mereduksi risiko. Dengan kata lain, bencana sebenarnya telah dimulai jauh sebelum air meluap atau tanah bergerak—ia dimulai ketika sebuah kebijakan diabaikan, ketika pengawasan dilemahkan, ketika suara rakyat tenggelam dalam politik transaksional.
Ulrich Beck melalui konsep Risk Society memperkuat tesis ini: bahwa risiko-risiko modern bukan lagi semata produk alam, tetapi manufactured risks—risiko buatan manusia. Pembangunan tanpa kajian lingkungan, perizinan ekstraktif yang longgar, eksploitasi hutan yang masif, dan urbanisasi yang tidak tertata adalah contoh bagaimana arah politik menciptakan kerentanan baru. Risiko tidak lagi jatuh dari langit; ia lahir dari ruang rapat, ruang regulasi, dan ruang kekuasaan.
Di titik inilah pentingnya kesadaran politik menemukan makna yang paling menentukan. Kesadaran politik bukan sekadar mengetahui prosedur pemilu, melainkan memahami bahwa setiap pilihan politik adalah pilihan terhadap bentuk masa depan ekologis kita. Masyarakat yang sadar politik dapat melihat bencana bukan sebagai “musibah” yang datang tiba-tiba, tetapi sebagai refleksi dari struktur kekuasaan yang mereka biarkan bekerja tanpa pengawasan.
Baca Tulisan Selengkapnya di sini :