Lompat ke isi utama

Sudut Literasi

ECHO CHAMBER, FILTER BUBBLE, dan PERAN PENGAWASAN PARTISIPATIF DALAM PROSES ELEKTORAL

muhfisulit

Andi Muhfi Zandi M (Staf Bawaslu Kabupaten Bone) - Fenomena gema (echo) tidak hanya terjadi dalam fisika gelombang suara, tetapi juga hadir di ruang digital melalui fenomena echo chamber, yakni kecenderungan masyarakat dunia maya untuk menyaring dan mengonsumsi informasi yang sejalan dengan preferensi dan keyakinan pribadi, yang diperkuat oleh algoritma media sosial sehingga membatasi perjumpaan dengan pandangan berbeda, mempertebal polarisasi, dan berpotensi melemahkan sikap dewasa dalam menyikapi keberagaman. Rendahnya kesadaran publik terhadap dampak echo chamber menjadikannya ancaman bagi kualitas demokrasi, terutama di tengah proses penguatan demokrasi Indonesia secara institusional. Dalam konteks ini, Badan Pengawas Pemilihan Umum (Bawaslu) memiliki peran strategis dalam mengawal demokrasi elektoral melalui Pendidikan Pengawasan Partisipatif (P2P) yang menyasar pemuda usia 20–30 tahun, yang mayoritas berasal dari Generasi Z sebagai digital native dengan literasi digital yang relatif baik. Karakteristik Generasi Z yang adaptif terhadap teknologi menjadikannya berpotensi besar sebagai agen edukasi publik dalam melawan hoaks, black campaign, dan negative campaign di era Revolusi Industri 4.0, sehingga penguatan peran kader Sekolah Kader Pengawas Partisipatif (SKPP), didukung program Bawaslu Goes to School dan Bawaslu Goes to Campus, menjadi strategi penting untuk mendorong partisipasi politik pemuda yang kritis, inovatif, dan inklusif dalam memanfaatkan media sosial, sekaligus meminimalkan dampak echo chamber dan menjaga demokrasi yang sehat menjelang Pemilu mendatang.

Baca Tulisan Selengkapnya di sini :

Sudut Literasi